Showing posts with label Absurd. Show all posts
Showing posts with label Absurd. Show all posts

Friday, 8 March 2013

Sederhana

Sebelum Jumatan, ngepost dulu. Postingan pertama di.... tahun 2013!
Lama ya? Hahaha...

Yah, mungkin inilah gambaran yang punya blog ini. Kadang suka nggak inget kalo punya blog. Padahal ya blognya nggak keren2 amat. Desainnya pun nggak gemerlap dan cemerlang banyak foto dan video. Bukannya nggak suka foto sama video, tapi yaaa.. lebih suka yang simpel aja. Sederhana nggak banyak warna dan warni. Makanya bentuk rupanya ya gini. Putih dan biru. Sederhana aja.

Pesen emak:
Urip kui sak madya wae. 

Hidup itu madya saja. Aku sendiri nggak terlalu paham makna madya ini. Dalam tafsiranku sih, madya itu artinya di tengah-tengah. Nggak terlalu besar, nggak terlalu kecil. Nggak terlalu kaya, nggak terlalu papa. Nggak terlalu mewah, nggak terlalu lusuh. Di tengah-tengah saja. Bersahaja, sederhana.

Yup, sederhana. Yang bisa membuat kita hidup lebih lama.

Mungkin itulah filosofi yang dianut Rumah Makan Padang yang punya merek sederhana. Mungkin bukan karena makanan mereka yang sederhana. Tapi setelah makan dari sana, hidup para pelanggan menjadi lebih "sederhana". Mungkin lho yaa.. Mungkin...

Btw, RMP Sederhana itu uenak tenan lho makanannya. Onde mande rancak bana mamma mia lah, pokoknya.

Yo ra son?



Ayo gek mangkat Jumatan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Thursday, 19 April 2012

Absurd 17

Di kantor.

Mbak2: Bung, bung.. Sini bung.
Bungs: Yak.. Kenapa mbak?
Mbak2: Bantuin dong. Komputerku nggak bisa ngeprint tuh..
Bungs: -________________- Komputer kan emang nggak bisa ngeprint, mbak.. *&@%^&#%*!!!

Monday, 12 December 2011

Satu Sisi #3

Aku suka dengan sesuatu yang tidak biasa.
Aku suka dengan sesuatu yang unik.
Menjadi lain, aneh, dan membuat orang lain "mengernyit".

Di sisi lain, aku tak suka publisitas.
Aku lebih suka menjadi seseorang yang tak terlihat.
Invisible, di belakang layar, dan hilang tak berkesan.

Kemudian muncul lagi dengan kejutan.

Aku tak suka berada dalam arus.
Aku lebih suka berada di sisi lain.
Ketika orang-orang berlomba punya BB,
aku cukup dengan hape item putih.
Ketika orang-orang pergi ke konser artis terkenal,
aku mending pulang kampung ketemu emak bapak.



Meski demikian, aku tak suka kejutan.
Aku tak suka itu, demi apapun.
Aku lebih suka keteraturan, kejelasan, dan keterencanaan.
Sungguh.
Aku tak suka ketukan pagi buta di pintu karena orang mau memberikan kejutan.
Aku tak suka seseorang datang kepadaku tanpa pemberitahuan.
Aku tak suka seseorang pergi dariku tanpa pesan, terus menghilang.
Sungguh.
Demi apapun aku tak suka. Tapi aku tetap memahami dan menghargainya.

Orang biasa, akan mengatakan aku aneh.
Orang aneh, akan mengatakan aku biasa.

Friday, 28 October 2011

Absurd 16

Siang hari, di warung yang biasa dijadikan tempat makan.

Mbak2: Iiiih, sebel dech..
Bungs: Kenapa?
Mbak2: Negara ini nggak adil. Masa adanya hari Sumpah Pemuda doang. Yang buat pemudinya mana?
Bungs: Tenang aja. Adil kok. Cuma waktunya aja nggak sama...
Mbak2: Maksud mas?
Bungs: Nanti, tanggal 22 Desember kan ada Hari Ibu. Dan nggak ada Hari Bapak. Impas kan?
Mbak2: -______________-"

Saturday, 15 October 2011

Satu Sisi #2

Lelah itu menyapa. Hangat. Kubalas dengan senyuman..
Hai.
Lama kami bercengkerama. Ia tampak akrab dan dekat.
Maklum, beberapa hari terakhir ia sering berjumpa denganku.
Aku bercerita tentang apa-apa saja yang kulakukan hari ini.

***

Ah, gitu aja dipamerin, ujarnya menimpali ceritaku.
Biasa aja dong. Tuh, di luar sana. Ada banyak yang berkarya lebih banyak dari kamu, bungs.


Aku diam sebentar.
Kulontarkan protes bahwa aku tak pamer.
Aku sungguh ingin bercerita dan itu benar adanya!
Dia terkekeh.

Bungs, kamu tau tidak? Mereka itu berkarya dalam diam. Mereka tak ambil pusing untuk publikasi. Mereka hanya melakukan itu tanpa memikirkan apakah kerjaan mereka dilihat orang atau tidak. Itu yang membuat mereka lebih baik daripada kamu.

Kenapa mereka melakukan itu, banyak hal itu, tanpa peduli orang lain tau? Toh, tidak ada salahnya orang lain tau. Orang lain jadi bisa menghargai kerjaan mereka. Orang lain jadi bisa kasih tau ke orang lain tentang baiknya kerjaan mereka. Selain itu, orang lain juga jadi bisa bantu jika mereka mengalami kesusahan. Ya kan? Kenapa?

Karena mereka melakukan itu dengan cinta, bungs. Mereka adalah amatir di bidangnya. Sungguh sungguh amatir.

Tunggu! Amatir katamu? Mengapa amatir itu lebih baik daripadaku?

Ya, mereka amatir. Mereka tidak profesional, yang mengerjakan sesuatu karena profesi dan untuk uang. Mereka bukan profesional, yang mengejar materi keduniawian. Mereka adalah amatir, yang melakukan pekerjaan itu atas dasar cinta. Mereka suka melakukan pekerjaan itu meski kebanyakan orang tak suka karena tak ada uangnya. Merekalah para pekerja terbaik di dunia ini.

Bullshit. Mana ada orang seperti itu di dunia ini. Kita ini butuh materi untuk hidup. Dari mana kita dapat kalo bukan dari kerja?

Betul. Tapi ingatkah kau siapa yang memberi materi di dunia ini? Dialah Yang Maha Mengatur dan Memenuhi kebutuhan setiap mahkluknya. Jika engkau percaya, mengimani sepenuh hati, dan mencintai-Nya, apalagi yang engkau khawatirkan tentang kehidupan di dunia ini? Bungs, jika engkau mengejar materi, takkan ada cukupnya. Engkau akan terus mengejar, mengejar, dan mengejar, meski engkau lelah dan tubuhnya mengeluh memohon untuk engkau berhenti.

Tapi, bukankah itu lumrah. Kita bekerja, kita capai, dan sekarang,  aku bisa berbincang denganmu. Bukankah begitu seharusnya?

Ya, kalau kau bekerja untuk materi. Engkau akan seperti ini. Capek, lelah, dan memikirkan apa-apa yang sudah kau lakukan dan materi yang sudah kau peroleh. Berbeda jika kau tak memikirkan materi ketika kau bekerja. Lelahmu akan berbeda dan engkau takkan sempat punya waktu untuk berbincang denganku, karena aku takkan hadir di pikiranmu. Cobalah...

***

Apakah aku seorang amatir?

Tuesday, 27 September 2011

Satu sisi #1

I dont know...
Belakangan ini hidup rasanya terlalu datar.
Ini lagi. Itu lagi.

Variasinya mungkin cuma berita duka dari seorang teman lama yang kehilangan suaminya dalam kecelakaan. Dia sendiri sekarang sedang dalam ruang ICU. Sebenarnya bukan temanku yang kecelakaan yang mengabarkan, tapi teman si temanku yang kecelakaan itu tadi, yang juga temenku. Ribet? Ya itulah. Temanku pokoknya.

Hari-hari isinya rapat, rapat, dan rapat. Pagi, agak siang, siang. Sorenya enggak. Kue, kue, dan kue. Alhamdulillah.

Sampe kosan, tidur. Ngimpi, sering nggak jelas ngimpi apa. Tau-tau bangun. Laper, haus, gerah. Minum seteguk dua teguk. Bengong bentar. Ke kamar mandi. Cukup, sampe sini aja.

Yah, apapun itu, tetap aja aku begini. Wage-slave yang berada dalam kasta terendah piramida kaum Yahudi (menurut mereka).

Kapan bisa sukses? Oh, cepat atau lambat, jauh atau dekat, dua ribu. Yakin deh aku akan ke sana. Tapi mungkin tidak sendiri. Bersama anak dan istri. Amin.

Ah, tadi katanya cukup sampe sini? Kok lanjut lagi? Inkonsisten ih.. Gimana dapat Istiqomah mau mendekat kalo begitu terus?

Lho, justru itu... Sini, tak kasih tau. Udah tau kan kalo isi dunia ini diciptakan berpasangan? Ya kan? Nah, yakin deh bahwa si Istiqomah itu akan mendekat ke aku. Kenapa? Ya karena inkonsistensianku tadi.

Ah, nggak jelas deh.

Begini, begini. Tau kan apa pasangan siang?
Malam.
OK, tau kan pasangan pagi?
Sore.
Sip, tau kan pasangan atas?
Bawah.
Nice.. Nah sekarang, tau kan apa arti bahasa Indonesianya Istiqomah?
Konsisten
Yak, betul. Konsisten. Terus, apa pasangan konsisten?
Ya inkonsisten.
Tuh... Jodoh kan?!

Emangnya udah pasti jodoh?







Errrr... wAllohu a'lam..

Monday, 22 August 2011

Absurd 15

Senin pagi, di sebuah pembawa pesan instan.


Bungs: Mbak, mau tanya dong.
Mbak2: Apa?
Bungs: Boleh tanya nggak?
Mbak2: Apa?
Bungs: Udah kok. Kok malah balik tanya?
Mbak2: Iya, mau tanya apa?
Bungs: Itu pertanyaanya..
Mbak2: Lha iya, mau tanya apa?
Bungs: Boleh tanya nggak?
Mbak2: Boleh
Bungs: Oh, makasih..
Mbak2: Terus mau tanya apa?
Bungs: Idih, pingin tau aja. Nanti dong. Jangan memaksa aku ngasih tau pertanyaannya.
Mbak2: Lho, piye tooo....
Bungs: Hahaha..

Friday, 19 August 2011

Absurd 14

Jam sepuluh pagi, ketika Ramadhan.


Bungs: *ceguk, ceguk* (Jawa: cekikiken. Bahasa Indonesianya mungkin cegukan)
Mbak2: Kenapa mas?
Bungs: Ceguken mbak. *dalam hati: Udah tau cegukan masih ditanya
Mbak2: Minum aja, mas. Biar ilang cegukannya..
Bungs: Mbak udah gila?
Mbak2: *cekikikan*
Bungs: -___________________-"

Friday, 20 May 2011

Absurd 13

Di sebuah bis mini travel Jakarta - Bandung.

Mbak2: Mas, kok lesu?
Bungs: Masuk angin, mbak..
Mbak2: Lho, masuk angin toh? Kok nggak dikeluarkan?
Bungs: Udah, barusan.. Kecium ga?
Mbak2: %(&^)&^%^!!!
Bungs: *ngakak dalam hati*

Wednesday, 11 May 2011

Absurd 12

Suatu sore di sebuah kamar kos di bilangan Senen, Jak Pus.

Penyiar: Sore.. Dengan siapa ini?
Bungs: Sore mbak, dengan Bungs. Boleh rekues nggak?
Penyiar: Boleh..
Bungs: Rekues dong, lagunya Bon Jovi yang Have a Nice Day..
Penyiar: OK.. Siapa yang nyanyi?
Bungs: Bon Jovi, mbak..
Penyiar: Judulnya?
Bungs: -_________-" Nggak jadi deh mbak..

Tuesday, 19 April 2011

Absurd 11

Situasi: Sepulang kantor, gerimis di parkiran.

Ageng: Lho, kok kamu nggak pake jas hujan, Bungs?
Bungs: Enggak ah.. Nanti jas hujanku basah..
Ageng: *ngakak*

Thursday, 14 April 2011

Absurd 10

Situasi: di tempat Harun, penjual martabak depan kosan.

Harun: Man, gile ye si Messi ye. Masih umur segitu udah banyak aje golnye.
Bungs: Iya kang. Saya juga ga nyangka tadinya.
Harun: Heran gue, bise aje bikin gol. Kayanye kalo dipatahin kakinye baru deh dia kaga bisa bikin gol.
Cak Ahmad, tukang sate: Sama satu lagi, Run.
Harun: ape, cak?
Cak Ahmad: Jual ke Chelsea. Noh contohnya, si Torres.
Bungs: -_____________-"

Sunday, 3 April 2011

Absurd 9

Situasi: rumah makan padang yang sama dengan beberapa hari kemarin.

Mbak2: Bungkus kan, mas?!
Bungs: (pasang tampak jutek) Enggak, makan sini.
Mbak2: Iiih, mas ini. Masih sebel ya? Maaf deh, mas. Ini nasinya mau separo atau penuh?
Bungs: (masih jutek) Penuh, mbak. Udah pernah sama yang 'separo'.
Mbak2: Hihihi, mas ini lho. Kan saya udah minta maaf.. Lauknya apa?
Bungs: Ayam.
Mbak2: Paha atau dada, mas?
Bungs: Paha.
Mbak2: Wah, abis mas. Dada aja ya?!
Bungs: Yowis, dada. Yang paling sehat.
Mbak2: Yang kiri atau yang kanan, mas?
Bungs: (Mulai jutek lagi) Kanan. Yang bagus.
Mbak2: Wah, abis mas...
Bungs: (Jengkel) Yowis, kalo yang kiri masih?
Mbak2: Abis juga mas.
Bungs: (nada tinggi) Lha terus, yang masih ada apa?!
Mbak2: Ada akyuuuuuuuu...
Bungs: -____________-"

Wednesday, 30 March 2011

Absurd 8

Situasi: Google Talk di komputer, Selasa siang pas ngantuk-ngantuknya.

Mbak2: Siang, Gan.. Ada lagunya Marcel, nggak?
Bungs: Maap mbak, saya bukan Afgan.
Mbak2: -____-"
Bungs: (dalam hati) *ngakak*

Monday, 28 March 2011

Absurd 7

Situasi: Gambir, Minggu sore sekitar pukul 15.

2 bule cewek: (tergopoh-gopoh) Excuse me, mas. Selamat siang.
Bungs: (terbata-bata) Siang, miss. Can I help you?
Bule 1: Yes, please. We just got from the airport, but we seem to get lost here.
Bungs: OK, and then?
Bule 1: Then... would you like guide us to our destination?
Bungs: Owh, okay. Lets see.. Where are you going to?
Bule 2: (nyamber) to your heart, mas..
Bungs: -____________-

Wednesday, 23 March 2011

Absurd 6

Situasi: Status di Google Buzz tanggal 18/10/10

Bungs: Oke, ini masalah kamu dan aku. Mari selesaikan.
mas opang: mari!
Dicky dwi: satu lawan satu.....
haru haru: diselesaikan secara jantan.... dan betina
Bungs: -__________-"

Monday, 21 March 2011

Absurd 5

Situasi: di masjid jami, sehabis solat Ashar. Sepi.

Bungs: Ya Alloh, jadikanlah aku imam yang baik untuk istriku dan anak-anakku. Emm, kelak.
Mbak2: (Tiba-tiba dari belakang) Amiiin...
Bungs: (Kaget dan langsung noleh ke belakang) Mbak, nggak ada maksud apa2 kan meng-amin-kan aku tadi?
Mbak2: (Sambil senyum) Ada dong, mas.
Bungs: -_________________-"

Saturday, 19 March 2011

Absurd 4

Situasi: Rumah Makan Padang, sehabis magrib.

Mbak2: Makan, mas?
Bungs: Iya, mbak. Tapi dibungkus aja ya..
Mbak2: Oke. Pake apa, mas?
Bungs: Pake ati, mbak.
Mbak2: Wah, tinggal separo, mas.
Bungs: Lho, kok bisa?
Mbak2: Kan ati saya yang separo udah saya kasih ke mas...
Bungs: -___________-"

Friday, 18 March 2011

Absurd 3

Situasi: jalanan umum, sehabis dari toko ATK tadi.

Mbak2: (tergopoh-gopoh) Mas, mas. Tolong saya mas.
Bungs: Kenapa mbak?
Mbak2: Saya abis jatuh mas.
Bungs: Ya ampun?! Jatuh di mana mbak?
Mbak2: Di hatimu, mas.
Bungs: -__________-"

Absurd 2

Situasi: di toko sebelah toko ATK yang kemarin.

Bungs: Mbak, saya lagi nyari tinta nih. Ada nggak?
Mbak2: Ada nih mas, malah tinta ini ga akan habis dimakan zaman, selamanya.
Bungs: Wah, tinta apa itu mbak?
Mbak2: Tintaku kepadamu, mas..
Bungs: -____________- Etapi maaf ya mbak. Saya bungs, bukan mas. :D


*credit to mas Ilyas for the ending. :)