Showing posts with label KBBI. Show all posts
Showing posts with label KBBI. Show all posts

Saturday, 6 April 2013

Disleksia




Pernahkah putra putri Anda mengeluh kepada Anda bahwa ia susah membaca? Atau ia sering mengadu kepada Anda dia sering jadi bahan olok-olok di sekolah karena sering ditegur guru? Atau Anda cemas, di usia 9 atau 10 tahun sang anak masih belum bisa memakai baju dan sepatu sendiri? Ataukah Anda merasa jengkel tulisan sang anak sering terbolak-balik meski terus diajari? Ada apa dengan anak yang seperti ini? Apakah ia bodoh?

Jangan terburu membuat kesimpulan, apalagi memvonis bodoh. Ada banyak hal penyebab yang mengakibatkan si kecil seperti itu. Salah satu penyebabnya, mungkin saja ia terkena sindrom disleksia.

Disleksia (bahasa Yunani; dys-: "ketidakmampuan" dan lexis: "huruf" ) adalah gangguan yang terjadi pada kemampuan otak mengenali dan memproses simbol-simbol tertentu yang mengakibatkan terjadinya gangguan membaca dan menulis seorang anak.  Federeasi Neurologi Dunia mendefinisikan disleksia sebagai "suatu kelainan yang  teramasuk didalamnya kesulitan untuk belajar membaca walaupun dengan adanya instuksi umum, kecerdasan yang memadai dan interaksi kesempatan sosial budaya."

Gejala umum yang biasanya ada pada penderita disleksia antara lain adalah kesulitan membaca kalimat yang agak panjang; kesulitan menulis dan membedakan huruf yang mirip, seperti ‘b’ dan ‘d’; kesulitan mengikuti instruksi berurutan dan kontinyu, misalnya “sehabis pulang sekolah, lekas ganti baju, cuci tangan, makan siang, lalu tidur siang ya..”; kesulitan menakar jarak dan kecepatan; dan mudah tersinggung - pada akhirnya akan depresi (akibat sering mendapat olok-olok) dan bisa lebih fatal.

Bisakah disleksia disembuhkan? Saya sendiri belum pernah menemukan berita atau artikel yang menyebutkan bahwa disleksia bisa disembuhkan, karena menurut beberapa ahli, disleksia bukanlah penyakit. Namun, penderita disleksia bisa memperbaiki kekurangan mereka dengan melakukan pelatihan dengan metode tertentu dan niat kuat. Metode perawatan disleksia biasanya berbeda satu dengan lain, melihat kondisi penderita. Selain itu, perawatan sebaiknya bersifat privat dan intensif.

Berapa banyak penderita disleksia? Penderita sindrom ini berkisar 5-10 persen penduduk dunia, meski belum pernah ada data resmi yang mencatat itu karena disleksia susah-susah gampang untuk dikenali. Apakah penderita disleksia adalah seorang yang bodoh? Biasanya, bukan. Kecerdasan mereka normal. Bahkan ada beberapa yang di atas rata-rata. Meskipun mereka mempunyai kekurangan dalam membaca menulis, beberapa penderita disleksia dikaruniai anugerah kemampuan artistik, sastrawi, dan spasial yang tinggi. Beberapa penderita disleksia yang menjadi tokoh dunia adalah Leonardo da Vinci, Thomas Alva Edison, Albert Einstein, Agatha Cristie, Winston Churchill, Whoopi Goldberg, Walt Disney, Magic Johnson, dan Tom Cruise.

Saat ini, kesadaran atas disleksia sedang berkembang di dunia luas, mengingat penderita disleksia yang tidak mendapat perhatian perawatan yang benar biasanya akan mengalami trauma psikis dan ketidakpercayadirian. Beberapa kampanye dan fakta tentang disleksia bisa didapat di www.dyslexia.org.uk. Untuk penggemar film, setidaknya ada tiga film yang bisa menjadi gambaran tentang disleksia, “Taree Zameen Par” dari ranah Bollywood dan “Juli di Bulan Juni” serta “Ikhsan, Mama I Love You” karya anak negeri.

Thursday, 29 April 2010

Bonceng

Beberapa hari yang lalu saya bertanya di status facebook saya, “Pembonceng itu yang duduk di depan atau belakang?” Alhamdulillah, meski tidak banyak, saya mendapat jawaban. Kebanyakan (eh, kebanyakan apa kesedikitan ya? Kan yang menjawab tidak banyak?!) menjawab yang di depan. Hanya satu yang menulis "di knalpot". Itu Dion, teman SMA saya. Saya memang pertama kali mengenal dia ketika dia sedang duduk di atas knalpot. Mungkin knalpot memang benda ajaib bagi dia dan sebuah inspirasi yang tiada henti.

Kembali ke boncengan. Saya penasaran, apakah jawaban teman-teman saya itu jawaban yang benar, karena tidak ada satupun yang menjawab: “di belakang!” Rasanya aneh jika pilihannya ada dua, tapi yang dipilih cuma satu. Perkara pilihan Dion, itu kan pilihannya sendiri, bukan pilihan yang saya tawarkan, jadi marilah kita meninggalkan Dion yang sedang asyik dengan knalpotnya.

Menurut saya, perkaranya itu satu dan cuma satu, kata bonceng itu sendiri. Saya penasaran dengan arti kata ini. Bonceng, apakah artinya? Saya langsung meluncur ke Kamus Besar Bahasa Indonesia. Berhubung tidak ada yang terbitan Oxford Press, saya memakai kamus buatan Balai Pustaka (versi online juga ada di sini). Hahaha,,, ternyata tidak selamanya Barat itu canggih kawan! Itulah mengapa saya cinta Indonesia. Kamus didapat, langsung saya cari kata “bonceng”. Ketemu.

bon•ceng /boncĂ©ng/ v, mem•bon•ceng v 1 ikut naik (kendaraan beroda dua): ia naik sepeda motor dan adiknya - di belakang;

Hahaha... ini dia. Ternyata, membonceng itu pada makna denotatifnya adalah ikut naik. Dengan contoh kalimat pula: Ia naik sepeda motor dan adiknya membonceng di belakang. Artinya ia naik motor dan adiknya ikut naik di belakang.

Oke, perkara bonceng membonceng kelar. Jelaslah sudah kalo membonceng itu artinya ikut naik (di belakang). Tapi pertanyaanku belum terjawab! Pembonceng, siapakah gerangan dirinya? Yang di depan atau yang di belakang? Kutelusuri lagi kamus buatan Indonesia itu. Ketemu lagi.

pem•bon•ceng n 1 orang yg membonceng;


Hmmm... Orang yang membonceng. Kalo dihubungkan dengan hasil temuanku yang pertama tadi, orang yang membonceng adalah orang yang ikut naik, artinya ia duduk di belakang, bukan begitu? Jawablah “begitu”, jangan “bukan”. Karena dengan menjawab “begitu” berarti sudah memberikan pahala bagi penyusun naskah, penyunting tulisan, pabrik kertas, pabrik tinta, dan percetakan yang sudah memberikan ilmu kepada kita. Bukankah perkara bonceng-membonceng-pembonceng ini adalah suatu ilmu? Jangan jawab bukan, karena saya menyuruh begitu.

Dan kini jelaslah sudah, bagi saya (semoga juga bagi Anda), bahwa pembonceng adalah orang yang duduk di belakang. Lantas, apakah nama buat orang yang duduk di depan? Rasanya saya sependapat dengan kata-kata Citra Resmi tetapi dengan pembalikan. Orang yang duduk di depan, saya ingin menyebutnya terbonceng. Apakah ini sudah baku dan biasa digunakan? Wallahu’alam...

Mulai sekarang, mari kita pakai bahasa Indonesia dengan benar dan baik. Sebelum kita lupa dan diklaim oleh bangsa lain, cintailah segala sesuatu yang ada di dalam Indonesia kita ini, termasuk bangsa, budaya, bahasa, dan juga gadis-gadisnya, hehehee...