Showing posts with label bahasa. Show all posts
Showing posts with label bahasa. Show all posts

Monday, 16 September 2013

Kertas Dinding: Basmallah

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih Maha Penyayang...

rasio 16:9

yang mau make di komputernya, monggo..

Saturday, 6 April 2013

Disleksia




Pernahkah putra putri Anda mengeluh kepada Anda bahwa ia susah membaca? Atau ia sering mengadu kepada Anda dia sering jadi bahan olok-olok di sekolah karena sering ditegur guru? Atau Anda cemas, di usia 9 atau 10 tahun sang anak masih belum bisa memakai baju dan sepatu sendiri? Ataukah Anda merasa jengkel tulisan sang anak sering terbolak-balik meski terus diajari? Ada apa dengan anak yang seperti ini? Apakah ia bodoh?

Jangan terburu membuat kesimpulan, apalagi memvonis bodoh. Ada banyak hal penyebab yang mengakibatkan si kecil seperti itu. Salah satu penyebabnya, mungkin saja ia terkena sindrom disleksia.

Disleksia (bahasa Yunani; dys-: "ketidakmampuan" dan lexis: "huruf" ) adalah gangguan yang terjadi pada kemampuan otak mengenali dan memproses simbol-simbol tertentu yang mengakibatkan terjadinya gangguan membaca dan menulis seorang anak.  Federeasi Neurologi Dunia mendefinisikan disleksia sebagai "suatu kelainan yang  teramasuk didalamnya kesulitan untuk belajar membaca walaupun dengan adanya instuksi umum, kecerdasan yang memadai dan interaksi kesempatan sosial budaya."

Gejala umum yang biasanya ada pada penderita disleksia antara lain adalah kesulitan membaca kalimat yang agak panjang; kesulitan menulis dan membedakan huruf yang mirip, seperti ‘b’ dan ‘d’; kesulitan mengikuti instruksi berurutan dan kontinyu, misalnya “sehabis pulang sekolah, lekas ganti baju, cuci tangan, makan siang, lalu tidur siang ya..”; kesulitan menakar jarak dan kecepatan; dan mudah tersinggung - pada akhirnya akan depresi (akibat sering mendapat olok-olok) dan bisa lebih fatal.

Bisakah disleksia disembuhkan? Saya sendiri belum pernah menemukan berita atau artikel yang menyebutkan bahwa disleksia bisa disembuhkan, karena menurut beberapa ahli, disleksia bukanlah penyakit. Namun, penderita disleksia bisa memperbaiki kekurangan mereka dengan melakukan pelatihan dengan metode tertentu dan niat kuat. Metode perawatan disleksia biasanya berbeda satu dengan lain, melihat kondisi penderita. Selain itu, perawatan sebaiknya bersifat privat dan intensif.

Berapa banyak penderita disleksia? Penderita sindrom ini berkisar 5-10 persen penduduk dunia, meski belum pernah ada data resmi yang mencatat itu karena disleksia susah-susah gampang untuk dikenali. Apakah penderita disleksia adalah seorang yang bodoh? Biasanya, bukan. Kecerdasan mereka normal. Bahkan ada beberapa yang di atas rata-rata. Meskipun mereka mempunyai kekurangan dalam membaca menulis, beberapa penderita disleksia dikaruniai anugerah kemampuan artistik, sastrawi, dan spasial yang tinggi. Beberapa penderita disleksia yang menjadi tokoh dunia adalah Leonardo da Vinci, Thomas Alva Edison, Albert Einstein, Agatha Cristie, Winston Churchill, Whoopi Goldberg, Walt Disney, Magic Johnson, dan Tom Cruise.

Saat ini, kesadaran atas disleksia sedang berkembang di dunia luas, mengingat penderita disleksia yang tidak mendapat perhatian perawatan yang benar biasanya akan mengalami trauma psikis dan ketidakpercayadirian. Beberapa kampanye dan fakta tentang disleksia bisa didapat di www.dyslexia.org.uk. Untuk penggemar film, setidaknya ada tiga film yang bisa menjadi gambaran tentang disleksia, “Taree Zameen Par” dari ranah Bollywood dan “Juli di Bulan Juni” serta “Ikhsan, Mama I Love You” karya anak negeri.

Friday, 8 March 2013

Sederhana

Sebelum Jumatan, ngepost dulu. Postingan pertama di.... tahun 2013!
Lama ya? Hahaha...

Yah, mungkin inilah gambaran yang punya blog ini. Kadang suka nggak inget kalo punya blog. Padahal ya blognya nggak keren2 amat. Desainnya pun nggak gemerlap dan cemerlang banyak foto dan video. Bukannya nggak suka foto sama video, tapi yaaa.. lebih suka yang simpel aja. Sederhana nggak banyak warna dan warni. Makanya bentuk rupanya ya gini. Putih dan biru. Sederhana aja.

Pesen emak:
Urip kui sak madya wae. 

Hidup itu madya saja. Aku sendiri nggak terlalu paham makna madya ini. Dalam tafsiranku sih, madya itu artinya di tengah-tengah. Nggak terlalu besar, nggak terlalu kecil. Nggak terlalu kaya, nggak terlalu papa. Nggak terlalu mewah, nggak terlalu lusuh. Di tengah-tengah saja. Bersahaja, sederhana.

Yup, sederhana. Yang bisa membuat kita hidup lebih lama.

Mungkin itulah filosofi yang dianut Rumah Makan Padang yang punya merek sederhana. Mungkin bukan karena makanan mereka yang sederhana. Tapi setelah makan dari sana, hidup para pelanggan menjadi lebih "sederhana". Mungkin lho yaa.. Mungkin...

Btw, RMP Sederhana itu uenak tenan lho makanannya. Onde mande rancak bana mamma mia lah, pokoknya.

Yo ra son?



Ayo gek mangkat Jumatan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Sunday, 11 November 2012

Bukan Hilang

kehilangan itu bukan berarti kekurangan
ada kalanya, apa yang kita anggap hilang tidaklah hilang
ada kalanya, sesungguhnya kita tak kehilangan
ada kalanya, kita hanya merasa kehilangan

bisakah kita menganggap begini: kita tak kehilangan apa yang kita sayangi itu, namun kita ditugasi untuk berbuat lebih mulia dari sekedar menyayangi; mengikhlaskan?

bisakah kita menganggap begini: ketika kita merasa kehilangan, sesungguhnya ada yang lebih membutuhkan kebaikan, keunggulan, kemampuan kita?

bisakah kita menganggap begini: sesungguhnya kita hanya dititipi apa yang kita anggap sebagai milik kita?

kita hanyalah makhlukNya yang tak patut mengakui apa-apa milikNya sebagai milik kita. adapun semua kenangan yang ada bersama kita, itulah hadiah untuk semua kerelaan kita menjaga hartaNya.

robbana dzolamna anfusana waillamtaghfirlana watarhamna lana minalkhoosiriin..
robbighfirlana waliwalidayyana warhamhuma kama robbayaana soghiiro..

senja yogya, untuk temanku, yang merindukan Rosul.

Tuesday, 16 October 2012

Sedikit Ngomongin Agama




Agama merupakan dasar bagi setiap insan yang hidup di dunia. Ada pendapat (sekuler) yang mengatakan bahwa sejatinya manusia adalah lemah, bodoh, dan jahat. Akan tetapi, manusia juga diberi akal yang bisa mengubah ketiga sifat tersebut menjadi kekuatan, kepandaian, dan kebaikan. Tentunya melalui pemikiran-pemikiran yang diperoleh melalui pengetahuan. Dari sini, kemudian manusia menjadi makhluk yang kompleks, mempunyai kemauan, keinginan, dan gairah.
Dalam naluri jasadiyah, kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dengan melakukan berbagai kegiatan yang menghasilkan kepuasan jasmaniah. Namun, bagaimana dengan rohaniyah? Apakah yang bisa dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan qolbu-nya? Sebagai makhluk yang berpikir, tentu manusia sering bertanya, kenapa kita hidup, untuk apa kita hidup, bagaimana cara kita menjalani hidup, kemana kita setelah hidup (karena setiap makhluk hidup pasti akan mati).
Dalam literatur sejarah perjalanan umat manusia, buah-buah pemikiran tersebut menghasilkan berbagai jawaban. Salah satunya dengan apa yang kita sebut agama. Secara bahasa, agama berasal dari kata Sansekerta, ‘a’ yang bermakna tidak dan ‘gama’ yang berarti kekacauan. Agama adalah suatu aturan agar hidup ini tidak kacau. Dari berbagai agama, yang dianggap mempunyai sistematika dan karakteristik yang paripurna adalah Islam, dimana para pemeluknya disebut muslim.
Sebagai muslim, mengimani Islam dan Iman adalah hal yang wajib. Dua hal yang menjadi pondasi agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai penyempurna ajaran tauhid yang dibawa sejak nabi Adam AS. Sebagai muslim, kita mengimani bahwa Alloh ada dengan segala kekuasaan-Nya, mengutus rosul-Nya untuk memberi kabar kepada kita, menuliskan petunjuk hidup kita melalui Alquran-Nya, dan menyiapkan hari pembalasan untuk tidakan selama hidup kita di bumi-Nya. Tidak ada tawaran untuk itu. Alloh mewajibkan kita menyembahnya dalam Islam tanpa keraguan, dan juga mewajibkan kita mendalami Islam agar keimanan kita semakin dalam.
Kenapa kita wajib beragama? Menurutku, kita adalah makhluk lemah. Kita perlu kekuatan, pertolongan, bimbingan dari sang Khalik. Itulah kenapa, 17 kali sehari seorang muslim membaca iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'im. Ihdinash shirothol mustaqim. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus.
Adakah engkau beragama? :)


Monday, 2 April 2012

Gombal 4

Ini buat yang sudah bener-bener serius sama pasangannya. Serius! Bukan cuma gombal. Tapi gombal serius!

dik, tolong mas dong..
tolong apa mas?
tolong terima lamaran ini.. #kasihcincindijari

*tapi kok judulnya tetep "gombal" ya? XD

Wednesday, 28 March 2012

Gombal 3

 Ini buat yang lagi adem-ademan.. :D

Dik, mas boleh pinjem tanganmu nggak?
Buat apa?
Biar cintaku nggak bertepuk sebelah tangan.. #dyar

Tuesday, 27 March 2012

Menyangkut Kenaikan Harga BBM

Adakah solusi buat nggak menaikkan harga BBM? Adakah solusi nggak demo buat menolak kenaikan harga BBM?

Ada. Banyak. Beberapa bisa kita lakukan dengan sederhana dan saat ini juga. Salah satunya: mengurangi ketergantungan terhadap BBM.

Caranya?
Mulai kurangi penggunaan BBM. Kurangi pemakaian kendaraan pribadi yang ber-BBM. Kalo bisa, naiklah kendaraan umum. Atau kendaraan pribadi tak ber-BBM.
Dulu, emak-emak kita bisa sukses mengurangi ketergantungan terhadap BBM. Kenapa kita enggak bisa?

Jujur aja, kita seperti kacanduan terhadap BBM. Seakan dunia kiamat kalo nggak ada BBM. Padahal, ada banyak energi alternatif. Indonesia ini kaya akan energi. Batubara, gas alam, angin, arus air, sinar matahari, panas bumi. Apa lagi?

Kalo suatu saat kita bisa menggunakan bahan bakar alternat dan beralih dari godaan dari BBM, siapa yang peduli bila ia naik setinggi langit?

Tuesday, 20 March 2012

Gombal 2

Dik, tau nggak bedanya satu, kamu, dan aku? 
Apa mas? 
Kalo satu tambah satu sama dengan dua. Kalo kamu tambah aku sama dengan kita..

Monday, 12 March 2012

Gombal 1

Catatan: Postingan ini didahului oleh perasaan (semoga ini cuma perasaan saya aja) betapa banyak jomblo yang pingin punya pasangan dan pasangan yang merasa hubungannya kurang harmonis. Saya pikir mereka perlu satu suplemen dalam bahan candaan yang akan mencairkan suasana. Mulai saat ini ada label gombal yang berisi gombalan yang (kurang) bermutu. Karena ini adalah postingan amatir, jadi mungkin ya cuma sedikit-sedikit aja isinya. :D

 Yak, yang pertama!
Tiket kereta kan udah bisa dipesen mulai H-90. Kalo tiket hatimu, bisa nggak kupesen mulai sekarang? #uhuk

Thursday, 29 December 2011

Kuno dan Sederhana

Pernah dengar bahwa sesuatu yang kuno itu adalah sesuatu yang sederhana? Karena kesederhanaannya, maka ia akan lebih mudah, dalam pembuatan, perawatan, dan pemakaian.

Semalam, beberapa teman ngomong ke saya (hampir barengan) mengeluhkan lewat chat kalo BBM, whatsapp, bahkan HP mereka yang sudah smart itu menjadi lelet pada saat yang hampir bersamaan. Sama leletnya dengan otak kepala saya yang berlomba kebut-kebutan dengan ingus yang pengen lari dari lubang idung. Saya lagi flu.

Sesederhana pemikiran saja, sesederhana ini jawaban saya: Udah, ganti hape item putih aja. Balik lagi pake sms. Dijamin cepet nyampe.

Apaan sih kamu?
Hape jadul? Norak amat?
Yah, ga ngerti gaya lu..
Ntar gue jadi ga bisa BBMan lagi..
Yang ada gue diketawain ntar..
Sms lagi, pulsa lagi..

Reaksi mereka macem-macem. Tapi begitu saya tanya: emang kamu pake BB buat apa sih? 5/6 jawaban pertama adalah.. buat BBMan / chatting.

Oh, God. Hape sepintar itu cuma buat chatting? Saya tanya lagi, pernah nggak make BB buat ngerjain sesuatu selain chatting?

Pernah. Browsing.
Pernah. Foto-foto.
Pernah. Fesbukan.
Pernah. Twitteran

Pernah pake buat ngerjain kerjaan kantor? Kirim email, gitu?

Satu orang jawab. Pernah
Lima lagi jawab. Enggak.
Tiga di antara lima jawab: Gue kan pake paket ... (well, aku lupa-lupa inget apa nama paketnya itu, maklum lagi flu), jadi cuma bisa buat BBMan ama chatting doang..

Nggak sengaja, saya jadi survey kecil-kecilan. Ternyata gini toh..

Baik, teman. Saya sampaikan kepada mereka sembari guyon. Pakelah sesuatu sesuai potensi dan kemampuannya. Kalo kamu punya BB, tapi cuma buat chat dan medsos, itu namanya pelecehan. BB itu kan punya banyak fitur lebih keren. Dan BBM itu tadinya cuma fitur tambahan. Tapi entah kenapa sekarang malah jadi fitur utama, mengalahkan fitur-fitur lainnya.

Yeee, BB-BB gue, duit-duit gue. Terserah gue dong..

Iye, emang terserah elu. Itu emang hakmu sebagai empu BB itu. Tapi pernah nggak kepikiran buat make BB selain buat BBMan dan chatting? Memanfaatkan buat sesuatu yang lebih produktif, gitu? Daripada ngobrol doang? Oke, kita masyarakat Indonesia emang makhluk komunal. Dimana-mana ngobrol udah biasa, bahkan kalo bisa, ngimpi pun ngimpi ngobrol dengan temen kita. Tapi jujur, rumpi abis nggak sih kalo tiap pagi, siang, sore, malem, pagi lagi ngobroool melulu? Apalagi ngetik dan mantengin layar di BB. Ga pegel tuh jari ama mata? Sampe jadi egois dan nggak peduli ama orang di sekitar. Ibunya Putri Soehendro (penyiar i-radio) yang mungkin udah cukup sepuh, kabarnya pernah ketabrak sama ABG di gereja, gara-gara si ABG jalan sambil BBMan. Bayangin coba. Di gereja, BBMan, terus nabrak ibu-ibu? Oh my...

Ah, elu kan ga punya BB. Ya jadi kaga bisa ngerasain rasanya BBMan.

Yes, definelty. I dont have any. Tapi dengan hape yang cuma item putih, saya cukup nyaman. Sejauh ini, saya cuma perlu membuat dan menerima panggilan telepon dan terima dan kirim SMS di hape itu. Chatting? Browsing? Saya pake PC. Motret? Saya pake kamera.

Saya bukan seorang yang anti teknologi. Saya pendukungnya malah. Tapi yang saya tentang dan kecewakan adalah penyia-nyiaan teknologi. Teknologi seyogianya membuat kita lebih pandai dan lebih produktif. Dan BB? Itu hape yang pintar dan berhak diperlakukan lebih dari sekedar chatting.

Forgive me for the offense. Saya, ah, andai putri saya punya kecerdasan kelas lima, saya akan menyesal menempatkan dia di kelas dua.



PS: Lebih baik punya stupid phone yang dipakai dengan smart, ketimbang smartphone yang dipakai dengan stupid.





Catatan: Sebetulnya nggak ada hubungan antara BBM / chat lambat dengan ganti hape trus pake SMS. Cepet atau nyampenya pesan tergantung sama sinyal dan kualitasnya. Kirim SMS pake hape itemputih pun kalo nggak ada sinyal, ya tetep aja nggak nyampe SMS itu.. XD

Friday, 18 November 2011

Lintasan Kata #1

"... janganlah takut kehilangan peranan dalam suatu perubahan. Sesungguhnya, dirimu adalah peran tersendiri dalam setiap tindakanmu. Jika engkau meniatkan bahwa tindakanmu adalah sebuah perubahan, niscaya dirimulah sang perubahan itu."

-bungsalman-

Wednesday, 2 March 2011

Harusnya Bukan di Blog

Seringkali kita terjebak dalam romantisme masa lalu.
Indah memang kalau dikenang.

Tapi apa iya kita mau terjebak terus?


*sudahlah PSSI. Juara Piala Kemerdekaan itu nggak ada artinya. Menangnya juga kan karena ngancem Libya kan? Om Nurdin yang beradab, monggo turun sendiri. Sebelum diturunin paksa dan menjadi malu. Yah, itu pun kalo masih punya.*

Friday, 11 February 2011

Menunggu

Ayo dong, nulis lagi dong.
Kangen baca tulisanmu nih...

Ada rasa candu membaca bait-baitmu.
Ada yang lain ketika menikmati kata-katamu.

Sering aku senyum2 sendiri,
Tak jarang juga aku mikir aslinya si penulis ini.
Ada berbagai hal yang menari di kepalaku.
Dan aku rindu itu.

Ayo dong, nulis lagi dong...
:)

Sunday, 16 January 2011

Hari Ini

Senang melihatmu bahagia.





Semoga kau selalu seperti hari ini.
Amin.

Friday, 13 August 2010

Bukan SARA, Bukan Salah Sangka...

Ini tulisan kesekian saya ketika kaki kiri saya harus dikompres untuk menghilangkan bengkak di matanya. Bertepatan dengan adik-adik KSR saya menjalani pelantikan, bertepatan dengan akhir Januari, bertepatan dengan sepinya sang hati, dan tak bertepatan dengan lagunya Glenn Fredly.

Lagi-lagi saya menikmati tayangan di televisi. Kali ini stasiun tempat bekerja mbak Tina Talisa dan mbak Fessy Alwi. Saya sempat gusar dengan sebuah kata yang tertulis di newsticker dan diucapkan oleh penyiarnya. Kata yang seharusnya (sesuai dengan KBBI) adalah CINA dan diucapkan CINA, ditulis dengan CHINA dan diucapkan CAINA. Oh, Tuhan!

Kata negara asal etnis Tionghoa itu sudah diindonesiakan, tuan-tuan dan nyonya-nyonya. Kenapa sih masih menggunakan yang masih "mentah'? Apa kata CINA dan pengucapan CINA kurang enak dibaca dan didengar? Rasa-rasanya, tidak. Justru lebih berasa Indonesia dan terasa lebih bangga mengucapkannya. Lebih menyatu, lebih terintegrasi, dan lebih nasionalis? Maaf, bukan bermaksud SARA, tapi saya ingin menyampaikan bahwa televisi sebagai media massa haruslah memberikan pendidikan, bukan pembodohan.

Pendidikan dan pembodohan yang seberti apa yang saya maksud? Begini, di negara kita yang tercinta ini sudah banyak sekali ke-salahkaprah-an (dan kekelirumologian a la Jaya Suprana). Sesuatu yang salah, tapi dianggap benar dan lumrah dan diterima dengan wajar. Kalau kata CHINA dan pengucapan CAINA ini terus menerus dipakai oleh stasiun televisi dan ditonton olah puluhan juta rakyat Indonesia, bisa-bisa orang Indonesia dan anak cucu kita akan mengira kata itulah yang benar menurut KBBI dan EYD!

Menyedihkan bukan?

Thursday, 12 August 2010

Asal Usul Bodoh (edisi II)

Oke, ini edisi dua, kelanjutan dari edisi pertama (ya iya lah... ). Let's see what we have! :D

Selain nama negara, pengaruh Indonesia juga sampai di dunia literatur.

Dalam bahasa Inggris, kata the last (terakhir), juga mendapat serapan dari bahasa Indonesia. Ketika dark age (masa kegelapan), seorang penjelajah dari Inggris sampai di tanah Skandinavia. Karena kelaparan, dia meminta makan kepada penduduk lokal, kebetulan masih kerabat Nur dan Wagio. Karena tidak paham bahasa, maka dia berkomunikasi dengan isyarat.
Si tuan rumah paham maksudnya, dan dia menyuguhkan sepotong roti seraya berkata, "monggo. Nuwun sewu, kantun setunggal, sampun telas (silakan. Maaf tinggal sepotong, sudah habis)". Karena bingung dan kelaparan, sang penjelajah berpikir keras dan terbata berkata, "the... las?" Sambil tersenyum tuan rumah membalas, "nggih, telas (ya, sudah habis)". Si penjelajah mengambil roti yang diberi sambil mengulang kata "the las... the las... yes, yes, the last. Thank you. Its the last..." dan berpikir bahwa itu adalah roti terakhir yang dipunyai tuan rumah. Sejak kesalahpahaman itu, kata telas (habis) kini bergeser menjadi the last (terakhir).

Penamaan sepeda onthel, juga tak lepas dari bahasa kita. Ketika prototype sepeda dikenalkan di Perancis, penemu sepeda ingin memberi nama temuannya ini dengan nama yang unik. Lalu dia menemui koleganya, seorang sastrawan, untuk membantunya. Sastrawan baik hati ini lantas meminta sang penemu memeragakan bagaimana dia mempergunakan temuannya. Ketika menyaksikan peragaan itu, sang sastrawan menemukan nama yang cocok. Nama tersebut terdiri dari dua kata dua bahasa, Inggris dan Jawa. Nama itu adalah by-sikil yang berarti dengan kaki (by-Ing: oleh, dengan) (sikil-Jawa: kaki) karena temuan itu digerakkan oleh kaki. Disebabkan pergeseran ucapan dan rasa bahasa-lah, kini kata itu kita kenal sebagai bicycle.

Sedangkan untuk kata erotis, atau dalam bahasa Inggris erotic, kuat dugaan saya jika kata ini diambil dari seorang tokoh Indonesia yang tersohor di dunia alat vital dari Sukabumi yang tak lain adalah Mak Erot...


masih tetep berlanjut... :D

Go Green di Kantor? Bisa kok...

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan di kantor maupun di rumah untuk membuat kita lebih green-care. Hal-hal kecil namun bernilai besar, sedikit tapi bermakna banyak. Apa saja itu? Mari kita simak.

1. Mengurangi pemakaian kertas (paperless).
Nggak make kertas, gitu?! Surat dan dokumen kan harus dicetak?! Hehe, nggak melulu seperti itu kok. Kita kan bisa memakai softcopy dokumen tersebut atau cukup mengurangi pemakaian kertas yang baru (dan menggantinya dengan kertas bekas) untuk mencetak hal-hal yang sekiranya kurang penting, semisal konsep surat, konsep dokumen, dan konsep-konsep lain. Satu usul lain, menggunakan format dupleks (cetak bolak-balik) untuk dokumen-dokumen resmi demi mengurangi penggunaan kertas.

2. Mengurangi pemakaian alat elektronik (electroless).
Menyetel komputer pada posisi shutdown (atau minimal stand by) ketika tidak akan menggunakan perangkat merupakan satu tindakan yang bijaksana. Selain menghemat listrik, komputer yang dinonaktifkan tidak akan mengeluarkan panas. Tentu saja hal ini akan membantu menyejukkan suhu di ruangan kita. So, biar suhu ruangan selalu stabil dan kita nggak ngomel-ngomelin AC yang nggak dingin, matikan alat elektronik yang nggak terpakai.

3. Memanfaatkan fasilitas digital.
Menggunakan email dan online-messenger merupakan satu bentuk aplikasi green ICT. Jamak bin lumrah kita lebaran mengirim ucapan selamat dengan sms, bukan lagi kartu lebaran. Begitu juga ketika surat undangan rapat beralih rupa dari selembar kertas menjadi sebuah teks yang dikirimkan melalui SMS, rasanya itu akan lebih cepat sampai, membantu menghemat kertas, dan menghemat tenaga office boy buat mengantar itu undangan lantai per lantai. Sejalan dengan UU ITE yang sudah berlaku, saya berandai-andai nanti nota dinas dan surat tugas dilegalkan berwujud dokumen softcopy. :)

Wednesday, 5 May 2010

Ciuman a la Jawa Barat


Pernah ciuman? Jarang ciuman? Sering ciuman? Belum pernah ciuman? Kasiaaan...
Hehehe... Tak apa, tak pernah ciuman pun nggak dosa kok. Bagus malah, jadi masih orisinil, tersegel. Halah, apa siiiih? :P

Skip, skip.

Kalo kita jalan-jalan ke Jawa Barat, kita bakal familiar dengan istilah-istilah di bawah ini. Istilah yang berhubungan dengan ciuman, tentu saja. :D Istilah apa saja itu? Bekicot, eh, cekidot!

CILEUNGSI = CIuman LEngket UNtuk jaGa gengSI
CIAWI = Ciuman manusiAWI
CIBULAN = Ciumannya BUtuh LANjutan
CIPANAS = Ciuman PAling gaNAS
CISADANE = Ciuman SAyang DAri aNE
CITARIK = Ciuman TArik menaRIK
CIAMPELAS = Ciuman AMpe PErut muLAS
CIBUBUR = Ciuman BUru-BURu
CISALAK = Ciuman SAya gaLAK
CIAMIS = Ciuman bAu aMIS
CIBITUNG = Ciuman BIkin unTUNG
CIKUPA = Ciuman KUrang PAs
CICADAS = Ciuman CumA Dada aTAS
CIPARAY = Ciuman Pakaian teruRay
CIPAGANTI = Ciuman Panas Gairah tak Terhenti
CILIWUNG = Ciuman LIar ngaWUr dan BinguNG
CILACAP = MAAF, Anda sudah memasuki wilayah JAWA TENGAH :D

Tentu saja, ini hanya tulisan humor semata. Tidak bermaksud untuk melecehkan atau membuat definisi baru kata-kata di atas. :)

Thursday, 29 April 2010

Bonceng

Beberapa hari yang lalu saya bertanya di status facebook saya, “Pembonceng itu yang duduk di depan atau belakang?” Alhamdulillah, meski tidak banyak, saya mendapat jawaban. Kebanyakan (eh, kebanyakan apa kesedikitan ya? Kan yang menjawab tidak banyak?!) menjawab yang di depan. Hanya satu yang menulis "di knalpot". Itu Dion, teman SMA saya. Saya memang pertama kali mengenal dia ketika dia sedang duduk di atas knalpot. Mungkin knalpot memang benda ajaib bagi dia dan sebuah inspirasi yang tiada henti.

Kembali ke boncengan. Saya penasaran, apakah jawaban teman-teman saya itu jawaban yang benar, karena tidak ada satupun yang menjawab: “di belakang!” Rasanya aneh jika pilihannya ada dua, tapi yang dipilih cuma satu. Perkara pilihan Dion, itu kan pilihannya sendiri, bukan pilihan yang saya tawarkan, jadi marilah kita meninggalkan Dion yang sedang asyik dengan knalpotnya.

Menurut saya, perkaranya itu satu dan cuma satu, kata bonceng itu sendiri. Saya penasaran dengan arti kata ini. Bonceng, apakah artinya? Saya langsung meluncur ke Kamus Besar Bahasa Indonesia. Berhubung tidak ada yang terbitan Oxford Press, saya memakai kamus buatan Balai Pustaka (versi online juga ada di sini). Hahaha,,, ternyata tidak selamanya Barat itu canggih kawan! Itulah mengapa saya cinta Indonesia. Kamus didapat, langsung saya cari kata “bonceng”. Ketemu.

bon•ceng /boncĂ©ng/ v, mem•bon•ceng v 1 ikut naik (kendaraan beroda dua): ia naik sepeda motor dan adiknya - di belakang;

Hahaha... ini dia. Ternyata, membonceng itu pada makna denotatifnya adalah ikut naik. Dengan contoh kalimat pula: Ia naik sepeda motor dan adiknya membonceng di belakang. Artinya ia naik motor dan adiknya ikut naik di belakang.

Oke, perkara bonceng membonceng kelar. Jelaslah sudah kalo membonceng itu artinya ikut naik (di belakang). Tapi pertanyaanku belum terjawab! Pembonceng, siapakah gerangan dirinya? Yang di depan atau yang di belakang? Kutelusuri lagi kamus buatan Indonesia itu. Ketemu lagi.

pem•bon•ceng n 1 orang yg membonceng;


Hmmm... Orang yang membonceng. Kalo dihubungkan dengan hasil temuanku yang pertama tadi, orang yang membonceng adalah orang yang ikut naik, artinya ia duduk di belakang, bukan begitu? Jawablah “begitu”, jangan “bukan”. Karena dengan menjawab “begitu” berarti sudah memberikan pahala bagi penyusun naskah, penyunting tulisan, pabrik kertas, pabrik tinta, dan percetakan yang sudah memberikan ilmu kepada kita. Bukankah perkara bonceng-membonceng-pembonceng ini adalah suatu ilmu? Jangan jawab bukan, karena saya menyuruh begitu.

Dan kini jelaslah sudah, bagi saya (semoga juga bagi Anda), bahwa pembonceng adalah orang yang duduk di belakang. Lantas, apakah nama buat orang yang duduk di depan? Rasanya saya sependapat dengan kata-kata Citra Resmi tetapi dengan pembalikan. Orang yang duduk di depan, saya ingin menyebutnya terbonceng. Apakah ini sudah baku dan biasa digunakan? Wallahu’alam...

Mulai sekarang, mari kita pakai bahasa Indonesia dengan benar dan baik. Sebelum kita lupa dan diklaim oleh bangsa lain, cintailah segala sesuatu yang ada di dalam Indonesia kita ini, termasuk bangsa, budaya, bahasa, dan juga gadis-gadisnya, hehehee...